REPUBLIK24.ID – Tepat pada peringatan 81 tahun lahirnya Pancasila, Presiden Republik Indonesia menyampaikan pidato kebangsaan yang menggetarkan hati sekaligus mengirimkan sinyal peringatan keras kepada para pelaku ekonomi ilegal. Presiden menegaskan bahwa tugas sejarahnya sebagai Presiden ke-8 adalah meruntuhkan sistem ekonomi yang timpang dan melakukan transformasi total menuju Ekonomi Pancasila.
Dalam pidatonya, Kepala Negara mengingatkan bahwa Pancasila bukanlah dokumen sejarah yang mati di ruang kosong, melainkan sebuah konsensus agung yang mempersatukan ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, dan budaya dalam satu rumah besar: Indonesia.
”Tugas sejarah saya sebagai Presiden ke-8, sebagai mandataris rakyat yang disumpah di hadapan rakyat, adalah melakukan transformasi bangsa, terutama transformasi ekonomi nasional kita. Dari yang belum berlandaskan Pancasila, menuju ekonomi yang sungguh-sungguh berdasarkan Pancasila!” tegas Presiden dengan nada berapi-api.
Kekayaan Alam Bukan Komoditas, Tapi Amanah Tuhan!
Presiden menggarisbawahi bahwa arah baru ekonomi Indonesia wajib berlandaskan nilai religius, kemanusiaan, dan persatuan nasional. Di bawah kepemimpinannya, paradigma pengelolaan sumber daya alam akan diubah secara radikal.
- Bukan Sekadar Komoditas: Kekayaan alam Indonesia tidak boleh lagi dikeduk hanya untuk memperkaya segelintir orang.
- Amanah Generasi Masa Depan: Sesuai amanah konstitusi, seluruh kekayaan bumi pertiwi harus dikelola secara bertanggung jawab untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, hingga ke anak cucu di masa depan.
- Pertumbuhan + Pemerataan: Kemajuan ekonomi tidak ada artinya jika timpang. Pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan pemerataan sosial agar keadilan dirasakan oleh seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke.
Siap Hadapi Perlawanan Koruptor dan Penyelundup
Melakukan perubahan besar tentu tidak mudah. Secara terbuka, Presiden menyatakan kesiapannya untuk menghadapi badai perlawanan dari pihak-pihak yang selama ini merugikan negara.
”Kita akan menghadapi tantangan, rintangan, mungkin juga kita akan menghadapi perlawanan dari kelompok-kelompok yang suka dengan korupsi, penyelundupan, tindakan-tindakan ekonomi yang ilegal, dari kelompok yang tidak cinta tanah air, bahkan berusaha terus untuk memperlemah NKRI,” ujar Presiden memetakan musuh-musuh negara.
Namun, Presiden menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mundur selangkah pun. Indonesia sebagai bangsa yang besar harus berani mengambil keputusan yang benar dan berani membela rakyat kecil, meskipun keputusan itu sulit. Pemerintah menolak mewariskan “kemudahan jangka pendek” yang justru menggadaikan masa depan bangsa.
Menuju Indonesia yang Dihormati Dunia
Di akhir pidatonya, Presiden menyampaikan keyakinan optimis bahwa jika Pancasila dijalankan secara murni dan konsekuen di bidang politik, hukum, budaya, dan khususnya ekonomi, Indonesia akan melompat menjadi negara adidaya yang makmur dan disegani di panggung internasional.
”Mari kita jaga Pancasila, mari kita amalkan Pancasila, mari kita wujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan bermartabat. Salam Pancasila!” tutup Presiden.(red)


Tinggalkan Balasan