REPUBLIK24.ID – Suasana di area Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) mendadak berubah haru dan pilu. Kasus dugaan tindakan asusila sesama jenis yang terbongkar di area perpustakaan kampus berujung pada momen menyayat hati ketika pihak keluarga pelaku dihadirkan di depan publik.

​Usai diamankan oleh pihak keamanan kampus, para pelaku langsung menjalani sidang terbuka yang dihadiri oleh jajaran civitas akademika serta ratusan mahasiswa yang mengawal ketat jalannya kasus ini. Massa mahasiswa yang geram sejak awal secara lantang menuntut sanksi tegas berupa Drop Out (DO) bagi para pelaku karena dinilai telah mencoreng nama baik almamater.

​Namun, ketegangan tersebut berubah menjadi keheningan yang mencekam saat ayah dari salah satu pelaku dihadirkan.

Sujud Sang Ayah di Tengah Amarah Mahasiswa

​Tak kuasa menahan beban moral dan kekecewaan yang mendalam, pria paruh baya tersebut tampak terus menunduk sambil memegangi kepalanya di ruang sidang. Di tengah riuhnya tuntutan mahasiswa, ia kemudian berdiri dan melakukan aksi yang tak terduga: bersujud di lantai, memohon ampunan kepada seluruh civitas akademika PNJ atas perbuatan asusila yang dilakukan oleh putranya.

​Dengan suara bergetar dan air mata yang menetes, sang ayah menyampaikan permohonan maafnya yang mendalam.

​”Saya mohon maaf sama institusi yang hebat ini, saya mohon maaf untuk semuanya. Saya gagal mendidik anak saya…,” ucapnya pilu di hadapan massa.

​Aksi bersujud sang ayah seketika meredam amarah kerumunan mahasiswa yang sebelumnya memanas. Pemandangan memilukan ini menyadarkan banyak pihak bahwa dampak dari tindakan indisipliner dan pelanggaran moral ini tidak hanya merugikan pelaku, tetapi juga menghancurkan hati orang tua yang telah bersusah payah menguliahkan mereka.

Sikap Tegas Kampus PNJ

​Pihak manajemen Politeknik Negeri Jakarta menegaskan tidak akan mentolerir segala bentuk tindakan asusila dan pelanggaran norma di lingkungan kampus. Proses hukum internal sedang berjalan dengan mempertimbangkan aspirasi mahasiswa serta kode etik yang berlaku di institusi.

​Rilis video dan foto terkait momen pilu ini kini tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial, memicu diskusi publik mengenai pentingnya pengawasan moral, etika di lingkungan akademik, serta beban psikologis yang harus ditanggung oleh keluarga pelaku.(red)